Pencari kebenaran adalah musyafir.
Ia menelusuri asal mula keberadaannya.
Harus tekun dan tetap lurus di antara Lembah Takwa dan Jurang Maksiat.
❝Namun sesekali — atas izin Tajalli-Nya. Ia menampakkan dirinya, bukan sebagai seorang Musyafir.
Kadang Ia tampakkan dalam rupa taat … atau bahkan maksiat.
❝Itu bukan nyata, tapi kamuflase. Hanya strategi untuk merayap … agar tak terlihat oleh ujian makhluk.
Seperti pesawat siluman yang menembus Radar Dunia Fana.
Ia tak pernah merasa sampai
Karena yang sampai sejatinya adalah Kematian Dirinya.
Selama Ruh masih terikat tubuh, selama dunia masih menyapa mata, selama hati masih belajar Mencinta
Maka ia Sejatinya belum kembali Seutuhnya.
Maka Para Arifin memilih Jalan Sunyi.
Cahaya mereka disembunyikan di balik kesederhanaan.
Berjalan tunduk, agar tak ada yang menunjuk.
Sebab Ruh yang benar-benar sampai hanya akan kembali ke PangkuanNya.
Sebagai Pos Terakhir Pengembaraan
Yaitu: Kepada Yang Maha Awal dan Maha Akhir